Label

Kamis, 25 Juli 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3 COACHING SUPERVISI AKADEMIK

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3

COACHING SUPERVISI AKADEMIK

Oleh : Adi Saputra, S.Pd.I

Calon Guru Penggerak Angkatan 10 - Kabupaten Aceh Barat Daya

A.   Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar

1. Pengalaman materi yang diperoleh.

Ada 3 prinsip coaching yang saya ketahui yakni asas kemitraan, proses kreatif dan memaksimalkan potensi. Kompetensi inti ini harus di miliki oleh seorang coach antara adalah kehadiran penuh, mendengarkan aktif dan mengajukan pertanyaan berbobot. Pelaksanaan coaching menggunakan alur TIRTA, yakni Tujuan, Indentifikasi, Rencana dan Tanggung Jawab. Supervisi akademik adalah upaya membantu guru-guru dalam mengembangkan kemampuannya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan ini berarti esensi supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai untuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalnya. Ada 3 tahap dalam melakukan supervisi, yakni pra observasi (perencanaan), observasi (pelaksanaan) dan pasca observasi (tindak lanjut).

2. Emosi yang dirasakan terkait pengalaman belajar.

Emosi-emosi yang hadir sebelum pembelajaran modul 2.3 adalah antara tidak percaya diri, ragu dan cemas karena saya masih berangpan coaching adalah sesuatu yang sangat rumit. Setelah saya mempelajari modul 2.3, saya mulai tertarik dalam mempelajari dan mengimplementasikan teknik coaching ini. Saya sangat senangdan bahagia saat berkolaborasi dengan rekan-rekan saya dalam melaksanakan praktik coaching baik di ruang kolaborasi maupun demonstrasi kontekstual. InsyaAllah saya akan optimis mengimplementasikan semua yang saya pelajari di modul 2.3 ini dalam rutinitas pembelajaran di sekolah.

3. Keterlibatan dalam proses belajar.

Dalam proses belajar mengajar, yang sudah baik dirasakan dalam melibatkan diri adalah sudah mampu berkolaborasi dengan rekan sesama CGP saat mempraktikkan proses coaching baik sebagai coach, coachee dan observer. Saya juga melibatkan diri dari setiap diskusi yang dilakukan terkait modul 2.3 ini.

4. Yang perlu diperbaiki terkait keterlibatan pembelajaran.

Dalam keterlibatan dalam proses pembelajaran, yang masih saya harus perbaiki adalah kemampuan dalam mengajukan pertanyaan yang berbobot. Pertanyaan berbobot ini akan mampu menggali permasalahan coachee dan tentunya akan membantu coachee dalam membuka pemikiran atau solusi yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.

5. Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi

Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan pribadi setelah mempelajari modul

2.3, tentunya saya dapat memanajemen diri dari segala anggapan yang timbul di benak saya saat ada rekan atau murid ketika mengeluhkan terhadap suatu permasalahan. Saya juga sudah mulai berlatih coaching metode TIRTA yang beriringan dengan mendengarkan dengan RASA.

 

B.   Analisis untuk implementasi dalam konteks CGP

1.   Memunculkan pertanyaan kritis yang berhubungan dengan konsep materi dan menggalinya lebih jauh.

Kepala sekolah selaku pemangku kebijakan yang seharusnya menguasai teknik coaching dalam melakukan supervisi akademik. Supervisi seharusnya tidak hanya menilai penampilan guru saja, namun juga menggali potensi profesionalitas dari seorang guru seperti motode dan konsep yang digunakan oleh guru tersebut pada proses mengajar. Tujuan supervisi harus jelas dengan melakukan percakapan sebelum observasi (pra observasi). Selama observasi, supervisor harus menilai sesuai instrument yang jelas sehingga menimbulkan refleksi yang bermakna setelah observasi (pasca observasi).


2.   Mengolah materi yang dipelajari dengan pemikiran pribadi sehingga tergali wawasan (insight) baru

Coaching merupakan salah satu bentuk kepemimpinan pembelajaran yang berpihak kepada murid. Dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid, guru harus menguasai berbagai kompetensi sosial dan emosional, bukan hanya aspek kognitif saja. Dengan menguasai kompetensi tersebut, maka supervisi akademik yang dilakukan oleh supervisor dengan teknik coaching akan meningkatkan kinerja guru dalam aktivitas guru dalam melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid.


3.   Menganalisis tantangan yang sesuai dengan konteks asal CGP (baik tingkat sekolah maupun daerah).

Tantangan terberat adalah menyeragamkan pemahaman tentang coaching dalam supervise akademik baik di lingkungan sekolah maupun daerah. Selama ini supervisi dianggap sebagai hal menakutkan karena guru atau orang yang disupervisi akan merasa takut dinilai karena menurut coachee seolah-olah supervisor adalah orang yang mencari kesalahan atau guru sendiri takut untuk salah. Hakikat supervisi seharusnya meningkatkan kinerja dan aktivitas guru bukan mencari-cari kesalahan.

 

4.   Memunculkan alternatif solusi terhadap tantangan yang diidentifikasi

Solusi yang ditawarkan adalah: Melakukan sosialisasi mengenai hakikat supervisi akademik yang meningkatkan aktivitas guru. Memberikan contoh praktik coaching baik kepada murid maupun rekan sejawat yang ada di sekolah.

 

C.   Membuat keterhubungan

1. Pengalaman Masa Lalu.

Saya pernah disupervisi oleh kepala sekolah dalam Penilaian Kinerja guru. Saya merasa takut cemas karena kepala sekolah saya memiliki kemampuan mata pelajaran yang sama dengan saya yaitu mata pelajaran matematika.  Kegiatan  supervisi ini dilakukan  langsung observasi tanpa ada pembicaraan pra observasi. Namun setelah saya pahami, saya diberikan tips tips dalam melakukan penilaian dan supervisor memantau dan memberikan umpan balik terhadap apa yang sudah saya lakukan dan perbaikan apa yang sudah saya upayakan.

2. Penerapan di Masa Mendatang.

Supervisi akademik haruslah meningkatkan aktivitas guru dalam melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid. Supervisi akademik dengan proses coaching menerapkan 3 prinsip yakni asas kemitraan, proses kreatif dan peningkatan potensi.

3. Konsep atau praktik baik yang dilakukan dari modul lain yang telah dipelajari.

Modul 2.1 : Dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi yang berpihak pada murid  sesuai  dengan  filosofi  Ki Hajar  Dewantara,  maka  guru  harus  menjalankan coaching dalam menentukan gaya belajar murid agar sesuai dengan kebutuhannya. Murid akan maksimal dalam menggali potensinya jika belajar sesuai dengan gaya belajarnya sendiri.

 

Modul   2.2   :   Dalam   menjalankan   nilai   guru   penggerak   sebagai   pemimpin pembelajaran, guru harus melakukan budaya positif dengan visi dan prakarsa perubahan yang berpihak pada murid. Salah satu cara dalam mengembangkan suasana positif dalam kelas adalah dengan menerapkan pembelajaran 5 KSE. Dalam KSE, terdapat  teknik  STOP  dan  mindfulness( kesadaran penuh)  untuk  dapat  menciptakan  suasana  kelas menjadi lebih kondusif. Saat melakukan coaching pun, coach harus melakukan teknik mindfulness agar selama proses coaching, coach hadir sepenuhnya dalam semua tahapan tersebut.

4. Informasi yang didapat dari orang atau sumber lain di luar bahan ajar PGP

Dalam mempelajari coaching dalam supervisi akademik, banyak sumber yang bisa saya gunakan di luar modul PGP, antara lain:

a.       Media Online terutama dari youtube.com,

b.      Konsultasi dengan Fasilitator,

c.       Konsultasi dengan PP terutama saat menjalani pendampingan individu,

d.      Praktik baik rekan guru yang ada di lingkunga sekolah.